Menyapa

Di sebuah rumah makan, tampaklah sebuah keluarga yang sedang menunggu pesanan makanannya. Sambil menunggu pesanannya, mereka masing-masing tersenyum dan tertawa. Namun semuanya dilakukan sendirian tanpa menghiraukan orang-orang yang ada di kanan kirinya, bahkan anggota keluarganya sendiri.

Sang ayah asyik dengan BBM nya. Sang ibu sibuk dengan WhatsAppnya. Sang anak kedua-duanya sibuk dengan game online-nya. Sementara sang nenek duduk terdiam. Ia merasa asing di tengah-tengah keluarganya sendiri. Ia berusaha untuk mengikuti kegembiraan anak cucunya, namun tak mampu. Ia berusaha untuk menarik perhatian anak cucunya dengan ikut tersenyum maupun ikut tertawa, namun usahanya tak dapat mengalihkan perhatian anak cucunya dari kesibukannya. Akhirnya sang nenek tertidur tanpa tahu apa yang harus dilakukan.

 

Sungguh tragis, bahwa sang nenek harus merasa kesepian di tengah-tengah derai senyum dan gelak tawa anak cucunya. Seringkali karena asyik dengan diri sendiri kita melupakan orang-orang yang ada di sekitar kita. Teknologi dan sarana komunikasi dulu dirancang untuk membuat orang mudah berkomunikasi. Saat ini teknologi dan sarana komunikasi justru menghalangi orang untuk berkomunikasi dengan baik. Sarana komunikasi semestinya mendekatkan yang jauh. Namun dalam praktik seringkali menjauhkan yang dekat. Teknologi dan sarana komunikasi terkadang mematikan kasih yang ada di antara sesama anggota keluarga.

 

Hari ini adalah hari komunikasi sedunia. Kita diingatkan oleh Tuhan agar mampu mengembalikan makna komunikasi yang sesungguhnya. Komunikasi bukan semata-mata masalah bicara. Lebih dari itu, komunikasi adalah saat di mana kita saling menguatkan, saling menyapa dan saling mengungkapkan kasih. Hal inilah yang kita lihat dalam kesatuan Allah Tritunggal Mahakudus. Kesatuan Allah Tritunggal Mahakudus adalah model bagi kita untuk membangun sebuah komunikasi yang baik, yaitu komunikasi cinta. Jika kita mencintai dengan tulus, tak mungkin kita akan menyepelekan orang-orang yang ada di sekitar kita. Jika kita mengasihi dengan tulus, maka kita akan sungguh menghargai orang-orang yang mendukung kita dengan kehadiran maupun sapaan mereka.

 

Allah sungguh menginginkan semua makhluknya, terutama kita umat manusia ini, dapat saling mengasihi. Kasih adalah wujud nyata sehatnya sebuah komunikasi. Jika sebuah komunikasi tak sehat maka tak akan ada sikap saling mengasihi, menghormati dan saling menyapa. Semua keutamaan ini hanya terdapat dalam diri orang-orang yang mampu berkomunikasi dengan baik. Maka dengan mencontoh kesatuan Allah Tritunggal Mahakudus yang saling mengasihi, mari kita wujudkan sikap saling mengasihi dengan mau menyapa, mau meneguhkan dan juga saling mengingatkan. Sikap-sikap ini menjadi tanda bahwa kita masih memiliki sikap peduli. Orang yang tak peduli adalah orang yang tak mau menyapa, meneguhkan maupun mengingatkan. Di mana sikap tak peduli berkuasa, maka di situ ada keepian, kematian dan juga kesengsaraan. Belajarlah untuk menyapa, karena sapaan adalah tanda bahwa kita masih peduli. Sapaan juga suatu tanda bahwa kita masih menganggap orang-orang di sekitar kita itu berharga.

 

Tak perlu kita berpikir muluk-muluk untuk engasihi sesama dengan cara mengurbankan nyawa. Pikiran yang muluk-muluk seringkali tak akan pernah terlaksana. Kita dapat melaksanakan ajaran Yesus untuk mengasihi lewat sikap kita mau menyapa, bertanya dan juga meneguhkan orang-orang yang kita kasihi, entah istri, suami, anak, ataupun anggota keluarga kita yang lain. Semoga ajakan Tuhan untuk mau saling menyapa dan saling mengasihi pada hari komunikasi sedunia ini sungguh bergema dalam hidup kita masing-masing.. (Rm. FX. Sulistya Heru Prabowo, O.Carm/RUAH)